Mengembalikan Makna Pergerakan : Bukan Sekedar Rokok, Ngopi, Makan dan Uang Saku

7188da46 f2f7 4b83 beed 900dc9b542e5

Jambi, cakapcuap.co – Kerja pergerakan pada hakikatnya adalah ikhtiar kemaslahatan, bukan ruang transaksi kepentingan, apalagi sekadar sarana mengisi rokok, kopi, dan amplop dari oligarki. Sejak awal sejarahnya, pergerakan lahir dari kesadaran moral untuk membela kepentingan publik, meluruskan ketimpangan, dan menghadirkan keadilan sosial. Ia tumbuh dari keberanian untuk berbeda, untuk berdiri di sisi yang tidak nyaman, dan untuk mengatakan benar meski berhadapan dengan kekuasaan dan modal.

Ketika kerja pergerakan direduksi menjadi aktivitas rutin yang bergantung pada sponsor, maka pada saat itulah pergerakan kehilangan daya gugahnya.
Fenomena ini semakin kasat mata di ruang publik. Banyak yang menyebut dirinya aktivis, penggerak, atau pembela kepentingan rakyat, tetapi orientasi pergerakannya berhenti pada konsumsi sesaat. Diskusi, konsolidasi, dan aksi lebih sering diukur dari ada tidaknya dana operasional, bukan dari substansi gagasan dan keberpihakan.

Rokok dan kopi menjadi simbol, bukan sekadar pelengkap, melainkan tujuan tersembunyi. Ketika uang oligarki mulai membiayai pergerakan, kritik pun menjadi selektif, sikap melunak, dan arah perjuangan perlahan berbelok mengikuti kepentingan pemberi dana.

Dalam kondisi seperti ini, pergerakan tidak lagi berfungsi sebagai alat kontrol sosial, tetapi berubah menjadi perpanjangan tangan kekuatan modal dengan wajah seolah-olah mewakili rakyat. Isu-isu publik tidak lagi diperjuangkan untuk diselesaikan, melainkan dikelola agar tetap hidup dan menguntungkan. Konflik dipelihara, narasi dipelintir, dan kemarahan publik diarahkan sesuai kebutuhan sponsor. Yang lahir bukan perubahan struktural, melainkan panggung-panggung semu yang ramai di permukaan namun kosong di kedalaman.

Padahal esensi pergerakan bukan pada seberapa sering turun ke jalan atau seberapa keras suara yang dikeluarkan, melainkan pada kejelasan nilai dan konsistensi sikap. Kerja pergerakan adalah kerja kesadaran, bukan kerja pesanan. Ia menuntut kemandirian, pengorbanan, dan kesediaan menanggung risiko. Pergerakan yang bergantung pada uang oligarki sejak awal telah menyerahkan kemerdekaannya. Di titik itu, yang bergerak bukan lagi nurani, melainkan kepentingan.

Kemaslahatan publik menuntut keberanian untuk menolak kenyamanan semu. Aktivisme yang sejati sering kali berjalan dalam keterbatasan, minim fasilitas, dan jauh dari sorotan. Ia tidak selalu populer, tidak selalu menguntungkan, dan sering kali menempatkan pelakunya pada posisi yang rawan. Namun justru di situlah integritas diuji. Apakah pergerakan tetap berpihak pada kepentingan banyak orang, atau berubah menjadi profesi informal yang hidup dari penderitaan dan konflik sosial.
Lebih berbahaya lagi, praktik pergerakan yang berorientasi uang merusak kepercayaan masyarakat terhadap gerakan sipil secara keseluruhan.

Publik menjadi sinis, skeptis, dan apatis. Ketika rakyat tidak lagi percaya pada pergerakan, ruang demokrasi melemah, dan oligarki justru semakin leluasa menguasai arah kebijakan. Pergerakan yang seharusnya menjadi benteng terakhir kepentingan publik justru runtuh dari dalam.
Kerja pergerakan harus dikembalikan pada makna dasarnya: kemaslahatan. Ia harus berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat, dikelola secara mandiri dan transparan, serta dijalankan dengan keberanian moral. Rokok dan kopi boleh hadir sebagai teman diskusi, tetapi tidak boleh menjadi tujuan. Dana boleh ada sebagai alat, tetapi tidak boleh mengikat sikap dan membungkam kebenaran.

Pergerakan yang sehat adalah pergerakan yang mampu menjaga jarak dari oligarki dan berdiri tegak di atas kepentingan publik.
Pada akhirnya, pergerakan bukan soal siapa yang paling lantang berbicara atau paling sering tampil, melainkan siapa yang tetap setia pada nilai ketika tidak ada yang membiayai. Jika kerja pergerakan hanya berujung pada rokok, ngopi, dan uang dari oligarki, maka yang bergerak bukan lagi kesadaran, melainkan kepentingan sesaat. Dan di titik itu, pergerakan kehilangan maknanya sebagai jalan kemaslahatan.

Oleh : Heri Waluyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

0

Subtotal