Jambi, cakapcuap.co – Provinsi Jambi akan memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) besok pagi. Di saat panggung upacara disiapkan dan pidato gubernur dirapikan, publik kembali dihadapkan pada siklus lama: janji diulang, masalah tetap bertahan.
Setiap HUT, Gubernur Jambi selalu menggaungkan visi besar tentang pemerintahan bersih, pembangunan merata, dan kesejahteraan rakyat. Namun menjelang perayaan tahun ini, jarak antara janji dan realita justru semakin telanjang.
Jalan provinsi di sejumlah daerah masih rusak dan terabaikan, kesenjangan antarwilayah belum terjawab, sementara rakyat kecil terus menanggung dampak ekonomi yang rapuh akibat ketergantungan daerah pada sektor primer. Ironisnya, janji tentang keadilan dan pemerataan terus dijual sebagai narasi sukses di atas panggung seremoni.
Aktivis Jambi, Fauzan Hasby, menyebut peringatan HUT Provinsi Jambi kerap kehilangan makna substantif dan berubah menjadi ajang legitimasi kekuasaan.
“Setiap HUT yang dipertontonkan ke publik adalah pidato manis dan klaim keberhasilan. Tapi di lapangan, rakyat masih bergulat dengan masalah yang sama dari tahun ke tahun. Janji gubernur terdengar indah, tapi realitanya jauh dari amanah,” tegas Fauzan.
Menurut Fauzan, yang lebih memprihatinkan adalah pengakuan pemerintah sendiri dalam dokumen perencanaan daerah yang menyebut masih adanya persoalan serius seperti ketimpangan pembangunan, degradasi lingkungan, kualitas SDM yang rendah, serta tata kelola pemerintahan yang belum optimal
“Kalau pemerintah sudah mengakui masalahnya, pertanyaannya sederhana: kenapa janji terus diulang tanpa pertanggungjawaban yang jelas? HUT seharusnya jadi momen evaluasi, bukan panggung pencitraan,” lanjutnya.
Ia menilai HUT Provinsi Jambi semestinya menjadi ruang kejujuran politik, di mana pemerintah berani membuka apa yang gagal, bukan hanya menonjolkan apa yang diklaim berhasil.
Besok pagi, ketika gubernur kembali berdiri di mimbar dan menyampaikan janji baru, masyarakat Jambi tidak lagi sekadar menunggu kata-kata indah. Yang ditunggu adalah keberanian untuk berhenti menjual harapan kosong dan mulai bekerja dengan hasil yang bisa dirasakan.
Di usia Provinsi Jambi yang terus bertambah, satu pesan dari rakyat semakin jelas: seremoni boleh megah, tapi kegagalan tak bisa ditutupi oleh pidato.
