Jambi, cakapcuap.co – Pembukaan turnamen sepak bola Gubernur Cup Jambi 2026 di Stadion Swarnabhumi pada Rabu (14/1) berlangsung meriah, namun disambut kritik tajam dari kalangan masyarakat sipil. Aktivis Jambi, Iin Habibi, menilai stadion yang diklaim berstandar internasional itu masih jauh dari layak untuk menggelar ajang besar.
Stadion Disebut “Internasional”, Fasilitas Tidak Lengkap
Iin Habibi menyoroti kondisi tribun yang dinilainya belum selesai sepenuhnya, terutama ketiadaan atap pelindung dan beberapa struktur bangku yang belum dipasang permanen. Menurutnya, label internasional hanya akan menjadi retorika apabila fasilitas dasar stadion tidak memenuhi standar kenyamanan publik.
“Kita menyebutnya stadion internasional, tetapi tribun belum rampung dan tidak ada atap di sebagian besar area. Ini seperti memaksakan gelar tanpa kesiapan nyata,” tegas Habibi.
Kenyamanan Penonton Dipertanyakan
Di tengah pembukaan yang disaksikan ribuan orang, Iin Habibi mempertanyakan dampak kondisi stadion bagi penonton pada laga sepanjang turnamen. Ia menilai absennya pelindung membuat publik berisiko terkena hujan dan panas terik, yang bisa mengganggu antusiasme dan keamanan penonton.
“Bagaimana jika hujan deras turun atau matahari tepat di kepala? Menonton bola seharusnya pengalaman menyenangkan, bukan bertahan dari cuaca, apalagi stadion internasional,” ujarnya.
Polemik Anggaran Mengemuka
Selain aspek fisik, persoalan anggaran juga menjadi sorotan. Proyek pembangunan Stadion Swarnabhumi tercatat menelan dana ratusan miliar melalui skema multiyears APBD Provinsi Jambi, angka yang dinilai tidak sebanding dengan progres pembangunan di lapangan.
Bersumber dari media lain menyebutkan KPPU tengah menyelidiki dugaan persekongkolan tender dalam proyek stadion tersebut. Temuan awal lembaga itu menduga adanya praktik yang bisa merugikan belanja publik dan mengurangi kualitas pekerjaan.
APBD Dinilai Tidak Cukup Menyangga Mega Proyek
Iin Habibi mengingatkan bahwa Provinsi Jambi masih menghadapi tantangan anggaran pada sektor prioritas seperti pendidikan, kesehatan, dan perbaikan infrastruktur dasar. Karena itu, pemborosan dana untuk megaproyek berisiko menjadi beban fiskal di tahun-tahun mendatang.
“APBD kita bukan tanpa batas. Pemerintah perlu bijak memilih prioritas, bukan berlomba membangun simbol prestise,” kritiknya.
Publik Diminta Ikut Mengawasi
Iin Habibi menegaskan turnamen Gubernur Cup harus dijadikan ruang untuk meningkatkan akuntabilitas, bukan sekadar seremoni olahraga. Ia mengajak masyarakat untuk terus mengawasi lanjutan pembangunan stadion hingga benar-benar rampung sesuai standar yang dijanjikan pemerintah.
“Kami bukan menolak pembangunan. Kami ingin stadion berfungsi penuh, nyaman, dan dibangun dengan anggaran yang bersih. Itu hak warga Jambi,” pungkasnya.
