Jambi, cakapcuap.co – Lingkaran setan kemunduran hari ini tidak lagi sekadar gejala individual, melainkan telah berkembang menjadi pola sosial yang kian dinormalisasi. Kesulitan hidup, konflik personal, hingga isu sosial perlahan kehilangan makna substantifnya dan berubah menjadi alat tukar narasi. Bahasa yang muncul pun nyaris seragam dan berulang: “lagi seret,” “tolong cair dulu,” “geser norek,” atau “sekadar uang rokok,” dengan janji pengembalian yang sering kali hanya menjadi formalitas. Masalah tidak lagi dicari penyelesaiannya, melainkan dipelihara agar tetap bisa menghasilkan bantuan instan.
Dalam konteks ini, penderitaan mengalami proses komodifikasi. Sakit, musibah, kegagalan usaha, konflik keluarga, bahkan tragedi sosial dikemas secara emosional untuk memancing empati. Empati pun bergeser dari nilai kemanusiaan menjadi sumber daya ekonomi. Semakin menyentuh dan dramatis narasi yang disampaikan, semakin besar peluang terjadinya transfer. Batas antara kebutuhan riil dan manipulasi menjadi kabur, sementara kejujuran tersisih oleh efektivitas cerita.
Secara psikologis, pola ini membentuk ketergantungan yang berbahaya. Individu yang terbiasa menjadikan permintaan sebagai solusi akan kehilangan dorongan untuk membangun daya juang, perencanaan, dan tanggung jawab. Setiap krisis kecil dibesarkan, karena krisis adalah pintu masuk legitimasi permintaan.
Terbentuklah mentalitas instan, solusi cepat tanpa proses, bantuan tanpa upaya, dan empati tanpa akuntabilitas. Dalam jangka panjang, karakter melemah, kemandirian menghilang, dan kegagalan justru direproduksi.
Dampak sosialnya jauh lebih luas. Kepercayaan—sebagai modal sosial paling penting—mengalami erosi perlahan namun pasti. Masyarakat menjadi curiga, defensif, dan selektif terhadap setiap permintaan bantuan. Terjadi kelelahan empatik, di mana orang memilih menjaga jarak demi melindungi diri dari manipulasi emosional. Ironisnya, mereka yang benar-benar membutuhkan justru ikut menjadi korban, karena ruang empati telah tercemar oleh praktik-praktik yang berulang.
Lebih jauh, fenomena ini melahirkan semacam ekonomi informal berbasis rasa kasihan. Isu dan masalah tidak lagi diarahkan pada perubahan atau solusi struktural, melainkan berhenti pada kepentingan personal jangka pendek. Kritik sosial kehilangan daya transformasinya karena semuanya berujung pada hal yang sama: transfer uang. Masalah tidak pernah selesai, sebab penyelesaiannya justru akan memutus aliran keuntungan.
Jika pola ini terus dibiarkan, masyarakat akan terjebak dalam siklus kemunduran yang sulit diputus. Empati mati bukan karena manusia kehilangan nurani, melainkan karena terlalu sering dieksploitasi. Jalan keluar dari lingkaran setan ini hanya dapat dimulai dengan mengembalikan empati pada tempatnya sebagai nilai moral, bukan instrumen transaksi, serta menumbuhkan keberanian untuk mendorong solusi, tanggung jawab, dan kemandirian—bukan sekadar “cair” dan “geser norek” sebagai jawaban atas semua persoalan.
Oleh : Heri Waluyo (Penggiat Sosial Media)






