Jambi, cakapcuap.co – Fenomena pemburu rente yang berkeliaran di sekitar lingkar kekuasaan kembali menjadi sorotan. Dalam praktik politik lokal maupun nasional, keberadaan kelompok yang dikenal sebagai “penjilat kekuasaan” atau licking dog kerap muncul setiap kali ada figur baru yang memegang kendali pemerintahan.
Kelompok ini biasanya tidak tampil sebagai penggerak gagasan ataupun pelaku pembangunan. Sebaliknya, mereka hadir sebagai pihak yang berusaha mengambil keuntungan dari kedekatan dengan penguasa. Cara yang digunakan pun beragam, mulai dari menjilat, memuji secara berlebihan, hingga menjadi tukang tepuk tangan setiap kali pemimpin berbicara, tanpa pernah benar-benar menyampaikan kritik yang konstruktif.
Dalam berbagai kesempatan, para penjilat kekuasaan ini terlihat paling vokal memuji pemimpin. Mereka kerap mengagungkan kebijakan yang bahkan belum terbukti manfaatnya bagi masyarakat. Narasi yang dibangun pun sering kali berlebihan, seolah-olah semua keputusan penguasa adalah langkah yang paling benar dan tidak boleh dipertanyakan.
Di sisi lain, keberadaan mereka sering kali menimbulkan kegelisahan di tengah masyarakat. Banyak pihak menilai kelompok ini bukan sekadar loyalis, melainkan pemburu rente yang licik. Mereka pandai membaca arah angin kekuasaan, berpindah dukungan ketika situasi berubah, dan memanfaatkan kedekatan dengan pejabat untuk memperoleh proyek, jabatan, maupun pengaruh tertentu.
Fenomena ini sebagai penyakit lama dalam praktik pemerintahan. Budaya menjilat dan memuji berlebihan membuat ruang kritik menjadi semakin sempit. Para pemimpin yang dikelilingi tukang tepuk tangan berpotensi kehilangan perspektif objektif, karena yang mereka dengar hanyalah pujian, bukan kenyataan di lapangan.
Tak jarang pula, kelompok ini membangun citra seolah-olah mereka adalah orang paling setia kepada penguasa. Namun di balik itu, kepentingan yang diperjuangkan lebih sering bersifat pribadi. Ketika kekuasaan berganti, mereka tidak segan-segan berpindah haluan demi menjaga akses dan keuntungan yang selama ini dinikmati.
Fenomena pemburu rente dan penjilat kekuasaan ini menjadi pengingat bahwa dalam sistem demokrasi, kekuasaan seharusnya dikelilingi oleh kritik dan kontrol publik, bukan sekadar oleh orang-orang yang sibuk memuji dan menjadi tukang tepuk tangan.
Tanpa kontrol dan keberanian untuk bersikap jujur, kekuasaan berisiko terjebak dalam lingkaran pujian palsu—sementara kepentingan rakyat justru semakin jauh dari perhatian.
Oleh : Iin Habibi (Pengamat Kebijakan Publik)






