Jambi, cakapcuap.co – Ungkapan “geser dululah” belakangan menjadi fenomena kecil namun menarik dalam relasi pertemanan. Kalimat ini biasanya muncul saat seseorang meminta bantuan dana dalam jumlah sangat kecil—sekadar uang rokok, ongkos kopi, atau tambal kebutuhan harian yang remeh. Meski nominalnya tidak signifikan, ungkapan ini justru menyimpan dinamika psikologis yang cukup kompleks.
Dari sudut pandang psikologi sosial, “geser dululah” berfungsi sebagai mekanisme peredam rasa malu (face-saving behavior). Meminta uang secara langsung sering diasosiasikan dengan ketergantungan atau ketidakmampuan, yang dapat mengancam kemandirian. Dengan memakai bahasa santai dan bercanda, individu berusaha menurunkan beban psikologis baik pada dirinya maupun pada pihak yang dimintai bantuan. Permintaan menjadi terdengar ringan, seolah tidak mengandung konsekuensi moral yang besar.
Namun, di sisi lain, frasa ini juga mencerminkan adanya normalisasi ketergantungan kecil (micro-dependency). Dalam kelompok pertemanan tertentu, bantuan finansial kecil dianggap hal wajar dan nyaris tanpa batas. Secara psikologis, ini dapat menciptakan ilusi bahwa relasi sosial selalu siap menutup kekurangan personal, sehingga mengurangi dorongan untuk mengelola kebutuhan secara mandiri.
Fenomena ini juga berkaitan dengan teori pertukaran sosial (social exchange theory). Pertemanan dipahami sebagai ruang timbal balik, bukan hanya materi tetapi juga solidaritas emosional.
Saat seseorang berkata “geser dululah”, ia secara implisit menabung harapan bahwa suatu saat ia akan membalas, meski balasan itu seringkali tidak terukur dan bahkan tidak pernah benar-benar terjadi. Ketika ketidakseimbangan berlangsung lama, muncul kelelahan emosional pada pihak pemberi, meskipun nilainya kecil.
Dari perspektif psikologi kepribadian, kebiasaan ini dapat menandakan kecenderungan external locus of control, yakni keyakinan bahwa solusi atas masalah—sekecil apa pun—lebih mudah datang dari luar diri sendiri. Jika terus berulang, pola ini berpotensi membentuk karakter permisif terhadap ketergantungan, di mana batas antara solidaritas dan eksploitasi menjadi kabur.
Menariknya, bagi pihak yang dimintai bantuan, frasa “geser dululah” juga menimbulkan dilema psikologis. Menolak permintaan kecil sering memicu rasa bersalah, karena penolakan dianggap tidak sebanding dengan nominal yang diminta. Akibatnya, banyak orang memilih mengalah demi menjaga harmoni sosial, meski secara batin merasa dimanfaatkan.
Pada akhirnya, “geser dululah” bukan sekadar permintaan uang rokok. Ia adalah simbol kecil dari dinamika relasi sosial modern—tentang harga diri, solidaritas, batas personal, dan cara individu menegosiasikan kebutuhan dalam lingkar pertemanan. Fenomena ini mengingatkan bahwa dalam relasi yang sehat, bantuan seharusnya lahir dari kesadaran, bukan dari tekanan halus yang dibungkus candaan.
Oleh : Heri Waluyo






