Gubernur Jangan Belokkan Sejarah, Baca Ini!

75903a47 c290 40ab 9f86 db3945b41fe1

Jambi, cakapcuap.co – Ada yang perlu diluruskan dalam dugaan pembelokan sejarah yang disampaikan oleh Gubernur Jambi Al Haris dalam momentum peringatan Isra Mi’raj dan Haul Datuk Paduka Berhala, Selasa (1/1/2026).

‎Sebagaimana telah beredar luas pada banyak media massa, dalam acara yang digelar di Masjid Tsamaratul Insan (Islamic Center) Selasa Kemarin, Al Haris bilang Datuk Paduka Berhala sebagai ‘Rajo Jambi’. Selengkapnya dia bilang begini;

‎”Pada kesempatan ini, kita juga melaksanakan Haul Rajo Jambi Datuk Paduko Berhalo, sebuah momentum penting untuk mengenang jasa dan keteladanan tokoh besar dalam sejarah Tanah Jambi. Rajo Jambi Datuk Paduko Berhalo menjadi simbol kearifan, keberanian, dan nilai-nilai luhur yang menjadi dasar terbentuknya tatanan adat dan pemerintahan di Jambi,” ujarnya.

‎Lebih lanjut orang nomor satu di Provinsi Jambi tersebut menuturkan bahwa pelaksanaan Haul ini memiliki makna yang sangat mendalam. Selain sebagai bentuk doa dan penghormatan kepada para leluhur, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menjaga dan merawat identitas budaya, memperkuat nilai keislaman, serta menanamkan semangat persatuan dan kebersamaan di tengah masyarakat.

‎”Saya mengajak kita semua untuk senantiasa memperbanyak amalan sholeh dan mendoakan para syuhada, para guru-guru kita, para orang tua yang telah mendahului kita, terutama Rajo Jambi Datuk Paduko Berhalo, semoga Allah SWT mengampuni segala kekeliruannya, diterima amal baiknya,” tuturnya.

‎Pernyataan tersebut pun sontak mendapat respons keras dari Ketua Lembaga Pusat Data Artefak & Sejarah (Pudas) Nusantara. Ketua Pudas Nusantara, Hafiz Alatas dengan tegas meminta Gubernur Jambi Al Haris untuk mengklarifikasi pernyataannya yang telah beredar luas di berbagai media massa.

‎Sebab, berdasarkan penelitian dan kajian mendalam terhadap berbagai arsip sejarah dan budaya yang sudah lama dilakukan oleh Pudas Nusantara. Sejatinya, Datuk Paduko Berhala tidak pernah menjabat sebagai Raja Jambi.

‎Kajian sejarah mencatat bahwa sosok pemegang tampuk kekuasaan Jambi pada awalnya ialah sosok bernama Putri Selaras Pinang Masak, anak dari Raja Brahma; Raja Diraja Pagaruyung. Dialah sosok penguasa perempuan atas tanah Jambi, pemegang adat dan asal daulat negeri yang kemudian bersuamikan Datuk Paduko Berhalo.

‎Berbagai arsip sejarah mencatat, Datuk Paduko Berhala sendiri bernama Syed Ahmad Salim, yang kemudian memperoleh gelar setelah menikah dengan Putri Selaras Pinang Masak.
‎Datuk Paduko Berhala datang membawa Syara’ dan Islam ke tanah Jambi.

‎Dari pernikahan itulah bersambung pada Raja-Raja Jambi, yang memegang adat, turun-temurun dari satu Sultan pada Sultan selanjutnya.

‎”Jadi apa yang disampaikan oleh Gubernur Jambi Al Haris pada saat memberikan kata sambutan di peringatan
‎Isra Mi’raj dan Haul Datuk Paduka Berhala kemarin. Itu kita nilai sebagai pembelokan sejarah. Itu artinya Gubernur Jambi, tidak paham sejarah Jambi,” ujar Hafiz Alatas.

‎Padahal menurut Hafiz, selama ini Pudas Nusantara telah melakukan kajian serta menyerahkan data penting dari pada kajian tersebut pada Pemerintah Provinsi Jambi. Pernyataan keliru Gubernur Jambi soal ‘Rajo Jambi’ pun dinilai sebagai bentuk ketidakpedulian terhadap sejarah atas tanah yang kini ia pimpin.

‎”Permintaan kita jelas, Gubernur Jambi Al Haris harus mengklarifikasi ini. Kita sebagai warga Jambi tidak boleh mendiamkan sejarah ditolak-balek. Jangan sesekali kita melupakan sejarah, apalagi membolak-balik sejarah, Karena kami dari Yayasan PUDAS saat mengikuti rapat persiapan acara tersebut sudah memberikan saran agar acara tersebut diberi nama Haul Raja – Raja Jambi dan Manakib dan Silsilah Raja Jambi yang dibacakan pada acara tersebut adalah kajian dari Yayasan PUDAS, sangat bertentangan dengan apa yang di ucapkan oleh Gubernur saat memberikan kata sambutan” ujarnya.

‎Hafiz juga menekankan kepada para pejabat Pemprov Jambi, agar jangan mendiamkan kesalahan pimpinan alias jangan bermental ‘Asal Bos Senang’.

‎Sejarah yang dibolak-balik mencerminkan ketidakpedulian sang pemimpin pada akan tanah dan negerinya sendiri. Padahal sejatinya sejarah adalah peta menuju peradaban masa depan.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

0

Subtotal