Danau Kerinci Kering Bukan Cuma Faktor PLTA, Geograf : Sudah “Sekarat” dari Dulu

4bfc79ba 8ae0 4e9d 93c6 b52529219756

Jambi, cakapcuap.co – Tinggi muka air Danau Kerinci dilaporkan mengalami penurunan signifikan dari kondisi normal. Balai Wilayah Sungai Sumatera VI (BWSS VI) Jambi menyatakan bahwa penurunan tersebut dipengaruhi oleh kombinasi faktor teknis dan alamiah.

Kepala BWSS VI Jambi, Joni Rahalsyah Putra, menjelaskan bahwa salah satu faktor yang berkontribusi terhadap surutnya air danau adalah uji coba pengoperasian turbin Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kerinci Merangin Hidro (KMH). Uji coba dilakukan dengan membuka pintu air pada ambang tertentu untuk mengalirkan air ke turbin.

“Akibat uji operasional PT KMH sebagai pihak yang menjalankan PLTA. Sudah ada rapat diskusi uji coba pengaliran untuk pembangkit,” ujar Joni Rahalsyah Putra, Jumat (30/1/2026).

Ia menerangkan bahwa uji coba tersebut berlangsung pada 1 hingga 16 Januari 2026, melalui pemberitahuan resmi dari perusahaan kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Dalam pelaksanaannya, PT KMH mengoperasikan satu dari tiga unit turbin dengan menurunkan ketinggian pintu air sekitar 20 sentimeter.

Meski demikian, BWSS VI menegaskan bahwa pengoperasian PLTA bukan satu-satunya penyebab penurunan muka air Danau Kerinci. Faktor lain yang turut memengaruhi adalah rendahnya curah hujan, yang menyebabkan debit air masuk ke danau berkurang signifikan. Selain itu, meningkatnya suhu udara turut memicu tingginya tingkat penguapan air, serta menurunnya pasokan air dari sungai-sungai yang bermuara ke Danau Kerinci.

Menanggapi fenomena keringnya Danau Kerinci, di lain keterangan, Geograf Muda Muhammad Attorik Falensky, yang tengah menempuh pendidikan Magister di School of Geographical and Earth Sciences, University of Glasgow, menyampaikan pandangan dengan menyoroti persoalan struktural dan jangka panjang dalam pengelolaan Danau Kerinci.

Menurut Falensky, secara klimatologis kondisi saat ini tidak menunjukkan adanya faktor ekstrem. Ia menyebut bahwa bulan Januari masih berada dalam periode musim hujan, dan berdasarkan data NOAA, tidak terdapat indikasi El Nino maupun kekeringan ekstrem yang dapat menjelaskan penyusutan air danau secara drastis dalam waktu singkat.

Ia mempertanyakan asumsi bahwa penurunan muka air danau semata-mata disebabkan oleh pembukaan pintu air PLTA. Mengingat Danau Kerinci memiliki luas sekitar 4.200 hektare, Dirinya menilai kecil kemungkinan penyusutan hingga dua meter disebabkan oleh satu peristiwa tunggal dalam durasi uji coba yang terbatas.

Dalam pandangannya, fenomena tersebut merupakan akumulasi dari kerusakan ekologis yang telah berlangsung lama, terutama terkait pendangkalan danau akibat sedimentasi. Ia mengungkapkan bahwa sejumlah temuan menunjukkan adanya dinamika permukaan danau yang anomalis, di mana danau tampak semakin melebar dari tahun ke tahun.

“Danau yang melebar tidak selalu berarti danau yang semakin kaya air. Dalam banyak kasus, kondisi tersebut justru menjadi indikator pendangkalan yang serius,” jelasnya.

Sedimentasi yang masif menyebabkan dasar danau terisi lumpur, sehingga air menyebar ke samping dan memperluas permukaan, tetapi dengan kedalaman dan kapasitas tampung yang semakin menurun. Falensky mengibaratkan kondisi Danau Kerinci yang dahulu menyerupai wadah yang dalam, kini lebih mendekati wadah yang dangkal.

Dalam kondisi tersebut, pembukaan pintu air PLTA dapat memberikan dampak yang lebih besar terhadap muka air danau. Namun, ia menegaskan bahwa hal itu bukan akar persoalan, melainkan pemicu yang menyingkap rapuhnya kondisi danau.

Lebih lanjut, Geograf Muda Kerinci itu menyoroti degradasi kawasan hulu dan daerah tangkapan air sebagai penyebab utama tingginya sedimentasi. Hilangnya tutupan hutan menyebabkan air hujan tidak terserap sebagai cadangan air tanah, melainkan langsung mengalir sebagai limpasan permukaan yang membawa material sedimen ke sungai dan danau.

Dampaknya bersifat ganda, danau semakin dangkal, sementara pasokan air saat musim kering menurun drastis karena tidak adanya aliran dasar yang stabil dari air tanah. Aktivitas manusia di badan sungai dan kawasan sekitar danau turut mempercepat proses tersebut.

Dalam kerangka ini, Falensky menilai bahwa uji coba pengoperasian PLTA bukanlah penyebab utama, melainkan peristiwa yang membuka mata terhadap kerusakan sistemik yang telah lama terjadi di daerah tangkapan air Danau Kerinci.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

0

Subtotal