Banjir Batang Asai Diduga Berkaitan dengan Kerusakan Kawasan Hulu, Munculnya Gelondongan Kayu Jadi Alarm Serius

94d3f2da c67a 4df5 8d83 eb51ad26a82c

Jambi, cakapcuap.co –  Desk Disaster WALHI Region Jambi dan WALHI Jambi menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas bencana ekologis banjir yang melanda Kecamatan Batang Asai, Kabupaten Sarolangun. Hujan yang turun tanpa jeda sejak Sabtu malam (25/4) hingga Minggu dini hari menjadi awal dari cerita panjang yang menyedihkan di hulu Kabupaten Sarolangun. Di Kecamatan Batang Asai, air Sungai Batang Asai naik dengan cepat, meluap, membawa lumpur, batang kayu, dan kecemasan yang tidak sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Tak hanya Batang Asai, banjir juga menjalar ke Limun hingga Bathin VIII, menegaskan satu hal bahwa wilayah ini berada dalam lingkaran rentan bencana ekologis.

Di tengah arus deras itu, ada pemandangan yang tak bisa diabaikan. Gelondongan kayu tersangkut di sekitar Jembatan Beatrix datang bersama banjir, seolah membawa pesan dari hulu yang selama ini luput dari perhatian. Bagi Desk Disaster WALHI Region Jambi dan WALHI Jambi, ini bukan sekadar kayu hanyut, melainkan penanda adanya kerusakan serius di kawasan atas Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Asai.

Banjir ini, menurut WALHI, tidak bisa lagi dibaca sebagai peristiwa alam semata. Curah hujan memang tinggi, tetapi daya rusak yang ditimbulkan mengarah pada persoalan yang lebih dalam, yaitu menurunnya daya dukung lingkungan akibat aktivitas ekstraktif yang terus berlangsung tanpa kendali, termasuk praktik Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI).

Direktur WALHI Jambi, Oscar Anugrah, menegaskan bahwa peristiwa ini adalah cermin dari kerusakan bentang alam di wilayah hulu. “Banjir di Batang Asai bukan peristiwa biasa. Ini adalah bencana ekologis yang lahir dari rusaknya wilayah tangkapan air. Kehadiran kayu-kayu yang hanyut hingga ke hilir merupakan indikasi kuat bahwa kondisi hulu sedang tidak baik-baik saja. Kami mendesak agar ada pengusutan serius terhadap aktor-aktor yang terlibat dalam perusakan lingkungan ini,” ujarnya.

Senada dengan itu, Nariski Andri selaku Koordinator Desk Disaster WALHI Region Jambi menyampaikan, “Temuan ini bukan sekadar persoalan kayu hanyut. Gelondongan kayu yang terbawa arus berpotensi memperparah dampak banjir, menyumbat aliran sungai, merusak infrastruktur jembatan, serta mengancam keselamatan warga. Ini adalah alarm keras bahwa ekosistem penyangga di wilayah hulu sedang mengalami tekanan”. Tegasnya.

Merespons situasi ini, Desk Disaster WALHI Region Jambi bersama WALHI Jambi mendesak sejumlah langkah segera:

1. Pemerintah Kabupaten Sarolangun, Pemerintah Provinsi Jambi, dan aparat penegak hukum untuk melakukan investigasi menyeluruh terkait asal-usul gelondongan kayu di Sungai Batang Asai.
2. Penanganan darurat yang cepat dan memadai bagi warga terdampak, termasuk pemenuhan kebutuhan dasar, layanan kesehatan, dan distribusi logistik.
3. Upaya pemulihan ekologis DAS Batang Asai melalui rehabilitasi hutan serta perlindungan kawasan tangkapan air.
4. Penyusunan sistem mitigasi bencana berbasis komunitas yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam perlindungan wilayahnya.

Bencana ekologis seperti ini akan terjadi berulang jika tata kelola sumber daya alam masih abai terhadap daya dukung lingkungan dan keselamatan rakyat. Sudah saatnya perlindungan kawasan hulu menjadi prioritas utama.

“Desk Disaster WALHI Region Jambi dan WALHI Jambi menyatakan solidaritas penuh kepada masyarakat terdampak banjir di Batang Asai, Limun, Bathin VIII, dan wilayah lainnya. Keselamatan warga harus menjadi prioritas, serta pemulihan lingkungan harus dijalankan secara serius dan berkeadilan”. Jelasnya

Salam Adil dan Lestari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *