Jambi, cakapcuap.co – Sejumlah mahasiswa asal Jambi yang saat ini menempuh pendidikan di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, mengeluhkan belum cairnya bantuan beasiswa studi luar negeri yang mereka ajukan ke Baznas Provinsi Jambi sejak pertengahan tahun 2025. Akibat ketidakjelasan pencairan tersebut, sejumlah orang tua mahasiswa disebut terpaksa berutang demi membiayai keberangkatan anak-anak mereka ke Mesir.
Salah seorang mahasiswa, Asyrof, mengaku dirinya bersama puluhan mahasiswa lainnya telah mengajukan bantuan beasiswa sejak Juni 2025 saat masih berada di Jambi. Pengajuan tersebut ditujukan untuk membantu biaya keberangkatan, registrasi kuliah, dan kebutuhan awal sebagai mahasiswa baru Al Azhar Mesir.
“Kami sudah mengikuti seluruh proses, tahapan, dan persyaratan yang diminta. Berkas kami dinyatakan memenuhi syarat dan kriteria. tetapi saat sekarang kami hanya menunggu pencairan yang tidak kunjung terealisasi,” ujar Asyrof kepada media ini.
Menurutnya, terdapat sekitar 25 mahasiswa yang telah lolos seluruh tahapan seleksi bantuan tersebut, yang saat ini hilang komunikasi dan kejelasan dari pihak Baznas Provinsi Jambi.
Asyrof menilai selama proses berlangsung terdapat banyak pernyataan yang berubah-ubah dari pihak Baznas Provinsi Jambi. Awalnya para mahasiswa dijanjikan bantuan akan dicairkan setelah rapat internal. Kemudian muncul janji bahwa dana akan cair pada bulan berikutnya, sebelum keberangkatan ke Mesir, hingga akhirnya dijanjikan akan ditransfer setelah mahasiswa tiba di Kairo.
“Karena percaya dengan janji itu, banyak orang tua yang rela mencari pinjaman terlebih dahulu untuk menutupi biaya keberangkatan. Bahkan ada pernyataan dari salah satu pimpinan yang menyarankan jika memang belum memiliki uang, bisa meminjam terlebih dahulu kepada kerabat dan nantinya akan diganti setelah dana Baznas cair,” ungkapnya.
Namun hingga hampir satu tahun sejak beberapa kali pengajuan dilakukan, bantuan tersebut belum juga dicairkan. Asyrof mengatakan komunikasi yang sebelumnya masih terjalin dengan pihak Baznas kini terputus, grup calon penerima beasiswa tidak lagi terdengar informasi, bahkan pesan yang dikirimkan beberapa mahasiswa kepada pihak Baznas Provinsi Jambi disebut tidak lagi mendapatkan respons
“Kami hanya membutuhkan kepastian. Kasihan orang tua diantara kami yang masih ada terlilit utang karena menunggu bantuan yang dijanjikan itu,” katanya.
Asyrof menjelaskan bahwa pada September 2025, setelah terjadi pergantian kepengurusan, para mahasiswa kembali mengajukan permohonan kepada Baznas Provinsi Jambi. Pada waktu yang sama, mereka juga mengajukan bantuan ke Baznas Kota Jambi.
Berbeda dengan Baznas Provinsi, Baznas Kota Jambi disebut telah mencairkan bantuan pada Oktober 2025. Bantuan tersebut bahkan diserahkan langsung oleh Wali Kota Jambi di kantornya.
Untuk memperjuangkan pencairan bantuan dari Baznas Provinsi Jambi, Asyrof mengaku telah meminta dukungan dari berbagai tokoh dan lembaga. Ia menyebut telah mendapatkan surat rekomendasi dan disposisi dari sejumlah pihak, termasuk Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jambi, PWNU Jambi, hingga tokoh daerah Haris yang saat itu ditemuinya di rumah dinas.
“Tujuan kami meminta dukungan itu agar proses pencairan bisa dipercepat. Tetapi lebih buruk daripada itu sampai saat ini belum ada hasil yang jelas,” ujarnya.
Berdasarkan informasi yang diperoleh para mahasiswa, nominal bantuan yang diajukan mengacu pada biaya tiket keberangkatan ke Mesir. Dalam dokumen program yang mereka lihat, bantuan tersebut diperuntukkan untuk biaya tiket pesawat. Sementara menurut keterangan yang pernah disampaikan Ketua Baznas Provinsi Jambi, nilai bantuan yang akan diberikan sebesar Rp10 juta per mahasiswa.
Adapun biaya tiket penerbangan menuju Mesir saat itu berkisar antara Rp11 juta hingga Rp13 juta. Kekurangannya, menurut para mahasiswa, akan mereka tanggung secara mandiri.
Hingga berita ini diturunkan, para mahasiswa berharap Baznas Provinsi Jambi dapat memberikan penjelasan resmi terkait status bantuan yang telah diajukan
“Kami merupakan Pelajar Agama, dan pihak Baznas adalah Lembaga Agama. tidak menuntut lebih, Kami hanya meminta kepastian dan kejelasan terkait bantuan yang sudah dijanjikan sejak lama itu.” tutup Asyrof.






