Jambi, cakapcuap.co – Kasus dugaan korupsi parkir di Pasar Angso Duo kini bukan lagi sekadar perkara hukum, ia telah menjelma menjadi ujian kepercayaan publik. Setelah sempat menghebohkan dengan aksi penggeledahan yang menyita perhatian, publik berharap ada babak lanjutan yang tegas dan transparan. Namun yang terjadi justru sebaliknya: sunyi. Sepi. Nyaris tak terdengar kabar.
Diamnya penanganan kasus ini memantik kecurigaan. Publik mulai bertanya-tanya, ada apa di balik semua ini? Apakah proses hukum benar-benar berjalan, atau justru berhenti di tengah jalan tanpa kejelasan? Dalam ruang hening itulah, istilah “86” kembali bergema, sebuah simbol yang mencerminkan kecurigaan adanya kompromi yang tak terlihat, namun terasa.
Padahal, perkara ini bukan soal angka kecil. Pengelolaan parkir di pasar terbesar di Jambi menyimpan potensi pendapatan yang tidak sedikit. Jika benar terjadi penyimpangan, maka yang dirugikan bukan hanya kas daerah, tetapi juga kepercayaan masyarakat. Dan ketika kepercayaan itu mulai luntur, yang runtuh bukan hanya citra, tapi legitimasi.
Lebih mengkhawatirkan lagi, senyapnya kasus ini memberi pesan yang berbahaya: bahwa hukum bisa kehilangan gaungnya ketika berhadapan dengan kepentingan tertentu. Jika benar demikian, maka ini bukan sekadar kasus korupsi biasa, ini adalah alarm bagi sistem.
Masyarakat tidak menuntut sensasi, mereka menuntut kejelasan. Siapa yang bertanggung jawab? Sejauh mana proses berjalan? Mengapa setelah penggeledahan, justru tidak ada perkembangan yang signifikan? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak boleh dibiarkan menggantung tanpa jawaban.
Jika aparat penegak hukum ingin menjaga marwah institusi, maka keterbukaan adalah keharusan. Diam bukan solusi. Justru dalam diam, kecurigaan tumbuh subur.
Kasus parkir Pasar Angso Duo kini berada di persimpangan: dilanjutkan dengan keberanian dan transparansi, atau dibiarkan tenggelam menjadi cerita lama yang dilupakan. Namun satu hal pasti, publik tidak akan berhenti mengingat, apalagi jika keadilan terasa semakin jauh dari jangkauan.
Oleh : Habib Hidayat (Aktivis Jambi)






